Kamis, 28 Maret 2013

Laporan Transpirasi


Judul Percobaan       : Transpirasi pada Tumbuhan
Tujuan Percobaan    : Mengetahui kecepatan transpirasi dalam waktu tertentu
Landasan Teori         :
A.    Pengertian Transpirasi
Transpirasi adalah proses pengeluaran air oleh tumbuhan dalam bentuk uap air ke atmosfir. Transpirasi dilakukan tumbuhan melalui stomata, kutikula dan lentisel. Porsi kehilangan air tersebut lebih banyak pada stomata dibandingkan dengan kutikula dan lentisel. Transpirasi merupakan bagian dari siklus air, dan itu adalah hilangnya uap air dari bagian tanaman (mirip dengan berkeringat), terutama pada daun tetapi juga di batang, bunga, dan akar. Permukaan daun yang dihiasi dengan bukaan yang secara kolektif disebut
stomata, dan dalam kebanyakan tanaman mereka lebih banyak pada sisi bawah dedaunan. Transpirasi juga dapat mendinginkan tanaman dan memungkinkan aliran massa nutrisi mineral dan air dari akar ke tunas. Aliran massa air dari akar ke daun disebabkan oleh penurunan hidrostatik (air) tekanan di bagian atas dari tumbuhan karena difusi air dari stomata ke atmosfer. Air diserap pada akar dengan osmosis, dan semua nutrisi mineral dilarutkan perjalanan dengan melalui xilem tersebut.
Tingkat transpirasi secara langsung berkaitan dengan partikel penguapan air dari permukaan tanaman, terutama dari bukaan permukaan, atau stomates pada daun. Stomata untuk sebagian besar kehilangan air oleh tanaman, tetapi beberapa penguapan langsung juga terjadi melalui permukaan sel-sel epidermis daun. Transpirasi pada tumbuhan yang sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat merugikan karena tumbuhan akan menjadi layu bahkan mati. Sebagian besar transpirasi berlangsung melalui stomata sedang melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit. Transpirasi terjadi pada saat tumbuhan membuka stomatanya untuk mengambil karbondioksida dari udara. Lebih dari 20% air yang diambil oleh akar dikeluarkan ke udara sebagai uap air. Sebagian besar uap air yang ditranspirasi oleh tumbuhan tingkat tinggi berasal dari daun, selain dari batang, bunga, dan buah. Transpirasi penting bagi tumbuhan, karena berperan dalam hal membantu meningkatkan laju angkutan air dan garam mineral, mengatur suhu tubuh dengan cara melepaskan kelebihan panas dari tubuh, dan mengatur turgor optimum di dalam sel.
Untuk membuat makanan, sebuah tumbuhan harus membentangkan daunnya pada matahari dan mendapatkan CO2 dari udara. Karbon dioksida akan berdifusi ke dalam daun dan oksigen yang dihasilkan sebagai hasil sampingan fotosintesis akan berdifusi keluar dari daun melalui stomata. Stomata menghubungkan ruang udara yang berbentuk sarang lebah, sehingga CO2 dapat berdifusi ke sel-sel fotosinterik mesofil. Selama daun masih dapat menarik air dari tanah dengan cukup cepat untuk menggantikan air yang hilang, maka transpirasi tidak akan menyebabkan masalah. Ketika transpirasi melebihi pengiriman air melaui xilem, seperti ketika tanah mulai mengering, daun mulai layu karena sel-selnya kehilangan tekanan turgor. Laju potensial transpirasi yang paling besar adalah saat hari panas terik, kering, dan berangin, karena semua itu merupakan faktor lingkungan yang menigkatkan penguapan air.  
Penyerapan air dari dalam tanah ke bagian atas tumbuhan memiliki arti bahwa tanaman tersebut harus melawan gaya gravitasi bumi yang selalu mengakibatkan benda jatuh ke bawah. Akan tetapi, tanaman berhasil melakukan hal itu. Kuncinya ialah tanaman-tanaman ini menggunakan tekanan akar, tenaga kapilari, dan juga tarikan transpirasi. Namun pada tanaman-tanaman yang sangat tinggi, yang berperan paling penting adalah tarikan transpirasi. Dalam proses ini, ketika air menguap dari sel mesofil, maka cairan dalam sel mesofil akan menjadi semakin jenuh. Sel-sel ini akan menarik air melalu osmosis dari sel-sel yang berada lebih dalam di daun. Sel-sel ini pada akhirnya akan menarik air yang diperlukan dari jaringan xilem yang merupakan kolom berkelanjutan dari akar ke daun. Oleh karena itu, air kemudian dapat terus dibawa dari akar ke daun melawan arah gaya gravitasi, sehingga proses ini terus menerus berlanjut. Proses penguapan air dari sel mesofil daun biasa kita sebut dengan proses transpirasi. Oleh itu, pengambilan air dengan cara ini biasa kita sebut dengan proses tarikan transpirasi dan selama akar terus menerus menyerap air dari dalam tanah dan transpirasi terus terjadi, air akan terus dapat diangkut ke bagian atas sebuah tanaman.
Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat mendinginkan tanaman yang terus menerus berada di bawah sinar matahari. Mereka tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena melalui proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin. Struktur anatomi daun memungkinkan penurunan jumlah difusi dengan menstabilkan lapis pembatas tebal relatif. Misalnya rapatnya jumlah trikoma pada permukaan daun cenderung meyebabkan lapisan pembatas udara yang reltif tidak bergerak. Stomata yang tersembunyi menekan permukaan daun sehingga stomata membuka.
B.     Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Transpirasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi adalah : faktor-faktor internal yang mempengaruhi mekanisme buka-tutup stomata, kelembaban udara sekitar tanaman, suhu udara dan suhu daun tanaman. Angin dapat juga mempengaruhi laju transpirasi. Angin dapat memacu laju transpirasi jika udara yang bergerak melewati permukaan daun tersebut lebih kering dari udara disekitar tumbuhan tersebut.
Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi laju transpirasi
1.      Cahaya
Laju transpirasi tanaman lebih cepat terjadi di tempat yang terkena cahaya matahari. Hal ini terutama karena cahaya merangsang pembukaan stomata pada siang hari,sehingga transpirasi bisa berjalan dengan lancar. Cahaya juga mempercepat transpirasi oleh pemanasan daun.
2.      Suhu
Suhu tumbuhan pada umumnya tidak berbeda banyak dengan lingkungannya. Kenaikan suhu udara akan mempengaruhi kelembaban relatifnya. Meningkatnya suhu pada siang hari, biasanya menyebabkan kelembaban relatif udara menjadi makin rendah, sehingga akan menyebabkan perbedaan tekanan uap air dalam rongga daun dengan di udara menjadi semakin besar dan laju transpirasi meningkat. Tanaman terjadi lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi karena air menguap lebih cepat karena suhu meningkat. Pada 30 ° C, daun mungkin terjadi tiga kali lebih cepat seperti halnya pada 20 ° C.
3.      Kelembaban
kelembaban udara sangat berpengaruh terhadap laju transpirasi. Kelembaban menunjukkan banyak sedikitnya uap air di udara, yang biasanya dinyatakan dengan kelembaban relatif. Makin besar tekanan uap air di udara, maka akan semakin lambat laju transpirasi. Sebaliknya apabila sedikit tekanan uap air di udara maka maka laju transpirasinya akan semakin cepat. Tingkat difusi meningkat setiap substansi sebagai perbedaan dalam konsentrasi zat di dua daerah increases. Ketika udara sekitarnya kering, difusi air dari daun berlangsung lebih cepat.
4.      Angin
Angin adalah suatu perpindahan masa udara dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam perpindahan masa udara ini, angin akan membawa masa uap air yang berada di sekitar tumbuhan, sehingga dapat menurunkan tekanan uap air disekitar daun dan dapat mengakibatkan meningkatnya laju transpirasi. Apabila angin bertiup terlalu kencang, dapat mengakibatkan keluaran uap air melebihi kemampuan daun untuk menggantuinya dengan air yang berasal dari tanah, sehingga lama kelamaan daun akan mengalami kekurangan air.
Ketika tidak ada angin, udara sekitar daun menjadi semakin lembab sehingga mengurangi laju transpirasi. Ketika angin hadir, udara lembab dibawa pergi dan digantikan oleh udara kering.


5.      Keadaan Air Tanah
Laju transpirasi sangat bergantung pada ketersediaan air di dalam tanah, karena setiap air yang hilang dalam proses transpirasi harus dapat segera diganti kembali, yang pada dasarnya berasal dari dalam tanah. Berkurangnya air di dalam tanah akan menyebabkan berkurangnya pengaliran air ke daun dan hal ini akan menghambat laju transpirasi.
Ketika tanaman berada di dalam kondisi gelap ataupun malam hari, maka laju transpirasi akan berkurang dibandingkan apabila tanaman terpapar cahaya. Hal tersebut dapat terjadi karena pembukaan stomata distimulasi oleh cahaya, dan kemudian cahaya menghangatkan daun yang dapat memicu proses transpirasi untuk meningkat. Begitupun dengan perubahan temperature, semakin tinggi temperature maka transpirasi akan semakin besar. Ketika temperatur naik sebesar 10°C, transpirasi akan meningkat sebesar tiga kali transpirasi semula.
Konsentrasi uap air di udara juga memicu terjadinya transpirasi. Apabila terdapat perbedaan konsentrasi uap air yang cukup signifikan dalam hal ini udara luar lebih kering, maka uap air tersebut akan berdifusi dari stomata daun menuju ke udara sekitar yang memiliki konsentrasi uap air relatif rendah. Hal sebaliknya dapat berlangsung apabila konsentrasi uap air lebih tinggi pada udara bebas.
Tanaman gurun banyak jenis khusus fotosintesis, disebut crassulacean metabolisme asam atau fotosintesis CAM yang stomata tertutup pada siang hari dan terbuka pada malam hari ketika transpirasi akan lebih rendah.Transpirasi ini berlangsung selama fotosintesis terjadi, yaitu sewaktu stomata daun membuka untuk pertukaran gas antara karbon dioksida dan oksigen. Transpirasi merupakan proses yang penting, serta merupakan tenaga penggerak yang mendorong naiknya air dan bahan mineral lainnya dari akar menuju daun. Naiknya material-material tersebut berkorelasi untuk melaksanakan biosintesis dalam rangka menyuplai fotosintesis, dan mendinginkan daun.
Udara yang berada disekitar daun akan meningkat kelembapannya apabila tidak ada angin yang berhembus, hal tersebut menyebabkan penurunan laju transpirasi. Ketika angin berhembus, udara lembap akan bergeser dan digantikan oleh udara yang lebih kering. Kelima, jika kehilangan air melalui transpirasi tidak dapat segera digantikan oleh ketersediaan air di dalam tanah, maka dapat dipastikan tumbuhan akan mengurangi laju transpirasinya.
Sewaktu akar tumbuhan menyerap air dari tanah dan gagal untuk memenuhi kebutuhan transpirasi yang cenderung cepat, stomata kemudian akan menutup karena sel penjaga kehilangan tekanan turgor. Tanaman dapat mengalami kelayuan apabila tekanan turgor yang berkurang tersebut terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama. Perbedaan tipe taanaman memegang peranan penting dalam cepatnya laju transpirasi. Setiap jenis tanaman memiliki tipe maupun jumlah stomata yang berbeda untuk setiap luasan daun. Selain itu, lingkungan hidup juga berpengaruh. Tanaman xerofit akan lebih memiliki laju transpirasi yang lebih kecil, dibandingkan dengan tumbuhan dengan habitat air.
C.     Mekanisme Kerja Stomata (Membuka dan Menutupnya Stomata)
Masing-masing stomata diapit oleh sepasang sel penjaga, yang berbentuk seperti ginjal pada tumbuhan dikotil dan berbentuk seperti halter pada tumbuhan monokotil. Stomata akan membuka jika tekanan turgor kedua sel penjaga meningkat dan akan menutup apabila tekanan turgornya rendah. Peningkatan tekanan turgor sel penjaga disebabkan oleh masuknya air ke dalam sel penjaga tersebut. Pada saat turgor sel penutup tinggi, maka dinding sel penutup yang berhadapan pada celah stomata akan tertarik kebelakang, sehingga celah menjadi terbuka. Naiknya turgor ini disebabkan adanya air yang mengalir dari sel tetangga masuk ke sel penutup, sehingga sel tetangga mengalami kekurangan air dan selnya sedikit mengkerut dan akan menarik sel penutup kebelakang. Sebaliknya pada waktu tekanan turgor turun, yang disebabkan oleh kembalinya air dari sel penutup ke sel tetangganya, sel tetangga akan mengembang dan mendorong sel penutup ke depan sehingga akhirnya stoma tertutup.
Seorang ahli fisiologi yang berasal dari Jepang yang bernama M. Fujiono menyatakan bahwa sel penutup stomata yang sedang terbuka dalam cahaya, mengandung banyak ion  K+ dalam konsentrasi yang tinggibdibanding dengan stomata yang tertutup dalam gelap. Pada saat stomata membuka akan terjadi akumulasi ion kalium (K+) pada sel penjaga. Ion kalium ini berasal dari sel tetangganya. Korelasi positif antara peningkatan konsentrasi ion kalium dengan pembukaan stomata secara konsisten ditemukan pada semua spesies yang telah diteliti. Untuk menjaga netralitas muatan listrik, maka masuknya ion kalium harus dibarengi dengan masuknya suatu anion. Asam-asam organik disintesis dalam sel penjaga sebagai tanggapan terhadap faktor-faktor yang menyebabkan stomata membuka. Asam organik yang disintesis umumnya adalah asam malat. 
Perubahan tekanan turgor yang menyebabkan pembukaan dan penutupan stomata terutama disebabkan oleh pengambilan dan kehilangan ion kalium (K+) secara reversibel oleh penjaga. Stomata membuka ketika sel-sel penjaga secara aktif mengakumulasi K+ dari sel-sel epidermal di sekitarnya. Pengambilan zat terlarut ini menyebabkan potensial air di dalam sel penjaga menjadi lebih negatif. Kondisi ini memungkinkan air mengalir ke dalam sel secara osmosis sehingga sel menjadi membengkak. Sebagian besar K+ dan air disimpan di dalam vakuola, dengan demikian tonoplas juga memainkan peranan penting. Penigkatan muatan positif sel akibat masuknya K+ diturunkan dengan pengambilan ion klorida (Cl-) melalui pemompaan ion hidrogen yang dibebaskan pada saat asam organik keluar dari sel, serta melalui muatan negatif asam oranik setelah kehilangan ion hidrogennya. Penutupan stomata disebabkan oleh keluarnya K+ dari sel penjaga, yang menyebabkan kehilangan air secara osmotik.
Jumlah air yang dilepaskan juga mempengaruhi laju transpirasi tergantung seberapa banyak air pada akar tanaman yang telah diserap, dan hal ini juga tergantung pada kondisi lingkungan seperti sinar matahari, kelembaban, angin dan suhu. Sebuah tanaman tidak boleh dicangkokkan di bawah sinar matahari penuh karena mungkin kehilangan air terlalu banyak dan layu sebelum akar rusak dapat pasokan air yang cukup. Perubahan pemanasan dari air menjadi uap. Dan kemudian keluar melalui stomata. Transpirasi membantu mendinginkan dalam daun karena uap keluar telah menyerap panas, derajat pembukaan stomata dan permintaan menguapkan suasana sekitar daun. Jumlah air yang hilang oleh tanaman tergantung pada ukuran, bersama dengan sekitar intensitas cahaya, suhu, kelembaban, dan kecepatan angin (semua yang mempengaruhi permintaan menguapkan). Tanah air bersih dan suhu tanah dapat mempengaruhi pembukaan stomata, dan dengan demikian tingkat transpirasi.

D.    Mekanisme Transpirasi Melalui Daun
Mekanisme transpirasi akan mudah dipahami kalau kita mengenal juga anatomi daun tumbuhan. Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel sel mesofil ke rongga antar sel yang ada dalam daun. Dalam hal ini rongga antar sel jaringan bunga karang merupakan rongga yang besar, sehingga dapat menampung uap air dalam jumlah banyak. Penguapan air ke rongga antar sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air.
Sel-sel yang menguapkan airnya kerongga antar sel, tentu akan mengalami kekurangan air sehingga potensial airnya menurun. Kekurangan ini akan diisi oleh air yang berasal dari xilem tulang daun, yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima dari akar dan seterusnya. Uap air yang terkumpul dalam ronga antara sel akan tetap berada dalam rongga antar sel tersebut, selama stomata pada epidermis daun tidak membuka. Aapabila stomata membuka, maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfer kalau tekanan uap air di atmosfer lebih rendah dari rongga antar sel maka uap air dari rongga antar sel akan keluar ke atmosfer dan prosesnya disebut transpirasi. Jadi syarat utama untuk berlangsungnya transpirasi adalah adanya penguapan air didalam daun dan terbukanya stomata.

E.     Pelepasan Panas pada Transpirasi
Daun yang terdedah pada radiasi matahari, akan menyerap sejumlah besar energi radiasi tersebut, yang selanjutnya dengan suatu cara akan dilepaskan kembali ke lingkungannya. Apabila energi ini tidak dilepaskan kembali ke lingkungannya, maka energi tersebut akan diubah menjadi energi panas dan menaikkan suhu daun. Karena transpirasi merupakan proses yang mengkonsumsi energi, seringkali dianggap bahwa penguapan air dalam transpirasi ini merupakan pelepasan panas yang diserap oleh daun tersebut.
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pemindahan panas pada tumbuhan yaitu radiasi neto positif dan negatif (radiasi neto negatif jika daun meradiasikan lebih banyak energi ke lingkungannya, dan radiasi positif jika daun menerima atau menyerap lebih banyak energi dari lingkungannya), konveksi negatif dan konveksi positif (konveksi negatif jika panas pindah dari daun ke udara, dan konveksi positif jika panas pindah dari udara ke daun), kadar konsumsi panas negatif dan positif (kadar konsumsi panas negatif jika air diuapkan dari daun, dan kadar konsumsi panas positif jika air mengembun pada permukaan daun), penyimpanan negatif dan positif (penyimpanan negatif jika suhu daun turun dan penyimpanan positif jika suhu daun naik), dan metabolisme seperti fotosintesis atau respirasi.

F.      Fungsi Transpirasi Tumbuhan
Beberapa jenis tumbuhan dapat hidup tanpa melakukan respirasi, tetapi jika transpirasi berlangsung pada tumbuhan akan memberikan beberapa keuntungan bagi tumbuhan tersebut yaitu : mempercepat laju pengangkutan air dan garam mineral,  menjaga turgiditas sel tumbuhan agar tetap pada kondisi optimal, dan sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas suhu tubuh
Pengangkutan unsur hara tetap dapat berlangsung jika transpirasi tidak terjadi. Akan tetapi, laju pengangkutan terbukti akan berlangsung lebih cepat jika transpirasi berlangsung secara optimum. Transpirasi jelas merupakan suatu proses pendinginan, pada siang hari radiasi matahari yang diserap daun akan meningkatkan suhu daun. Jika transpirasi berlangsung maka peningkatan suhu daun ini dapat dihindari.
Transpirasi itu suatu akibat yang tidak dapat dielakkan. Luasnya permukaan daun yang ada di udara itu suatu kondisi yang menyebabkan penguapan harus terjadi. Pada tanaman, transpirasi itu pada hakikatnya suatu penguapan air baru yang membawa garam-garam mineral dari tanah. Transpirasi juga bermanfaat di dalam hubungan penggunaan sinar matahari. Kenaikan temperatur yang membahayakan dapat dicegah karena sebagian dari sinar matahari yang memancar itu digunakan untuk penguapan air.
Alat dan Bahan         :
1.      Botol erlenmeyer 250 ml 4 buah
2.      Pucuk tanaman (ranting)
3.      Neraca
4.      Air
5.      Vaselin
6.      Gabus (tutup botol)
7.      Termometer

Cara Kerja                :          
1.      Berilah label pada botol erlenmeyer
2.      Isilah ke 4 botol erlenmeyer dengan air sebanyak kurang lebih setengahnya dan tutup dengan gabus yang berlubang
3.      Masukkan ranting tanaman (panjang kurang lebih 40 cm) dalam botol A, B, dan C, melalui lubang pada gabus. Botol A dibiarkan tanpa tanaman
4.      Berilah vaselin pada sekeliling gabus dan lubang gabus untuk mencegah penguapan selain dari tanaman
5.      Timbanglah ke empat botol erlenmeyer berikut tanamannya (botol B, C, dan D) dan catatlah beratnya
6.      Selanjutnya letakkan botol A, B, dan C dalam ruangan, dan botol D letakkan di luar ruangan. Kemudian kipasilah botol C
7.      Setiap 25 menit timbanglah kembali botol dan tanaman, lakukan penimbangan sebanyak 2 kali
8.      Setelah penimbangan terakhir ambillah tanaman tersebut dan ukurlah luas total daun
9.      Ukurlah temperatur udara di dalam dan luar ruangan




Hasil dan Pembahasan:
Hasil Pengamatan


Perlakuan
Berat Botol+Air+Tanaman (gram)


Selisih
Berat Daun Sample
Berat Semua Daun
Sebelum Perlakuan
Sesudah Perlakuan
A
321,7
321,7
0
-
-
B
354,8
354,4
0,4
0,2138
7,1432
C
363,7
363,2
0,5
0,2553
10,0493
D
364,4
363,6
0,8
0,5341
17,9895

Pembahasan
Luas total daun : (Berat semua daun/ berat sample daun) X luar sample daun



Luas daun sample : 4 cm x 4 cm = 16 cm2
Sehingga luas total daun adalah
Luas Daun B : cm2  = 534,570 cm2
Luas Daun C : cm2  = 629,803 cm2
Luas Daun D : cm2  = 538,91 cm2


Kecepatan Transpirasi : mg/cm2/menit




Keterangan :
a = Selisih rata-rata berat botol + air + tanaman pada awal percobaan dan setelah percobaan. (Kecepatan transpirasi )
b = Luas total daun (cm2 )

Sehingga kecepatannya setiap daun adalah
Kec Transpirasi B :    = 0,0249 mg/cm2/menit
Kec Transpirasi C :    = 0,0265mg/cm2/menit
Kec Transpirasi D :    = 0,0494 mg/cm2/menit
Dari hasil di atas dapat kita ketahui bahwa ada beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi laju transpirasi, diantaranya adalah suhu, intensitas cahaya, kelembaban udara dan angin.
Dari hasil pengamatan perlakuan pada tabung enlemeyer D memiliki laju transpirasi yang paling tinggi yaitu dengan nilai 0,0494 cm2 /menit, sehingga dapat kita ketahui bahwa semakin tinggi suhu suatu lingkungan akan membuat laju transpirasi atau penguapan pada tumbuhan semakin cepat.
Perlakuan pada tabung enlemeyer C menujukkan bahwa adanya pengaruh angin terhadap laju transpirasi tumbuhan, angin adalah suatu perpindahan masa udara dari suatu tempat ketempat lain. Dalam perpindahan masa ini, angin akan membawa masa uap air yang berada di sekitar tumbuhan, sehingga dapat menurunkan tekanan uap air disekitar daun dan mengakibatkan meningkatnya laju transpirasi .
Pada saat tanaman diberi perlakuan seperti pada tabung enlemeyer B tanaman juga tetap melakukan transpirasi dengan laju  0,0249 cm2 /menit , namun dalam laju yang tidak secepat pada tabung enlemeyer C yang diberi perlakuan tanaman yang dikipasi dan D yang diletakkan pada suhu yang tinggi dengan kelembaban yang rendah.
Sedangkan pada tabung enlemeyer A yang hanya diisi air kemudian ditutup dengan rapat menunjukan timbangan yang sama pada pengukuran awal dan pengukuran akhir yaitu seberat 321,7 gram, ini menujukan bahwa air didalam tabung enlemeyer A tidak mengalami evaporasi, karena tidak ada faktor luar yang mempengaruhi tabung yang ditutup rapat.

Kesimpulan                :
Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.      Proses transpirasi dapat berlangsung secara optimal jika faktor-faktor pendukungnya ada pada kondisi yang optimal pula.
2.      Faktor internal pendukung  transpirasi antara lain, besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak rambut pada permukaan daun, jumlah  stomata, bentuk dan letak stomata.
3.      Faktor lingkungan pendukung transpirasi meliputi intensitas cahaya, suhu, kelembaban udara, angina, dan keadaan air tanah.
4.      Semakin banyak cahaya maka laju transpirasi akan meningkat.
5.      Semakin tinggi suhu udara di lingkungan,  maka laju transpirasi akan meningkat.
6.      Semakin rendah kelembaban udara maka laju transpirasi akan meningkat.
7.      Angin dapat meningkatkan laju transpirasi karena dalam pergerakannya dapat membawa masa uap air yang berkumpul di sekitar daun.
8.      Laju transpirasi sangat bergantung pada ketersediaan air di dalam tanah, karena setiap air yang hilang dalam proses transpirasi harus dapat segera diganti kembali, yang pada dasarnya berasal dari dalam tanah.
9.      Laju transpirasi pada tumbuhan yang terkena sinar matahari langsung berbeda dengan laju transpirasi pada tumbuhan yang tidak terkena sinar matahari langsung, meskipun jenis tumbuhan, jumlah daun dan media yang di gunakan sama.
10.  Laju transpirasi tertinggi pada tumbuhan yang diletakkan di luar ruangan dengan intensitas cahaya tinggi, yaitu sebesar 0,0494 cm2 /menit yang merupakan botol erlemeyer D, sedangkan laju transpirasi terendah pada tumbuhan yang diletakkan di dalam ruangan, yaitu sebesar 0,0249 cm2 /menit yang merupakan botol erlemeyer B.

Pertanyaan                :
1.      Apa Kegunaan proses transpirasi bagi tumbuhan ?
2.      Mengapa pengukuran dengan penimbangan tidak dengan volume?
3.      Berapa mg/cm2 / menit kecepatan transpirasi tumbuhan yang diletakkan di dalam ruangan (Botol B) ?
4.      Berapa mg/cm2 / menit kecepatan transpirasi tumbuhan yang diletakkan di luar ruangan (Botol C) ?
5.      Berapa mg/cm2 / menit kecepatan transpirasi tumbuhan yang diletakkan di luar ruangan (Botol D) ?
6.      Apakah botol A (tanpa tanaman) mengalami pengurangan ? mengapa ?
7.      Apakah ada perbedaan transpirasi ? Jika ada, perangkat percobaan yang mana yang mengalami trasnpirasi paling cepat dan perangkat percobaan yang mana yang mengalami transpirasi paling lambat ?
8.      Bagaimana pengaruh kecepatan angin terhadap kecepatan trasnpirasi ?
9.      Bagaimana pengaruh suhu dan cahaya terhadap kecepatan trasnpirasi ?
Jawab =
1.      Transpirasi berperan dalam hal membantu meningkatkan laju angkutan garam dan mineral, mengatur suhu tubuh dengan cara melepaskan kelebihan panas dari tubuh, dan mengatur turgor optimum di dalam sel.
2.      Pengukuran dilakukan dengan  penimbangan dikarenakan pada percobaan pengukuran yang dilakukan untuk mengukur luas permukaan daun. Pengukuran dilakukan bukan dalam bentuk 3 demensi yang harus menggunakan volume. Dan pada transpirasi semakin luas permukaan daun maka semakin cepat laju transpirsainya.
3.      kecepatan transpirasi tumbuhan pada botol B adalah
=    cm2 /menit
=      = 0,0249 cm2 /menit
4.      Kecepatan transpirasi tumbuhan pada botol C adalah
=     cm2 /menit
=      = 0,0189 cm2 /menit
5.      Kecepatan transpirasi tumbuhan pada botol D
=    cm2 /menit
=     = 0,0494 cm2 /menit


6.      Pada botol A tidak mengalami pengurangan. Pada botol A tidak terdapat tumbuhan untuk diamati proses tranpirasinya. Dan juga, tidak terdapat proses evaporasi karena botol A dalam keadaan tertutup rapat.
7.      Ada. Perangkat percobaan dengan transpirasi cepat adalah pada botol D. Proses tranpirasi yang terjadi dikarenakan lebih banyak dipengaruhi faktor lingkungan, seperti radiasi cahaya, kelembaban, suhu, dan angin.  Sedangkan, perangkat percobaan transpirasi paling lambat adalah pada botol B. Karena, botol B hanya diletakkan di dalam ruangan tanpa perlakuan khusus (dibiarkan saja), sehingga proses transpirasi terjadi secara lambat.
8.      Kecepatan angin : angin dapat menurunkan tekanan uap air dalam daun sehingga dapat meningkatkan laju transpirasi. Jika angin bertiup terlalu kencang menyebabkan air yang akan keluar terlalu banyak dan daun menggantinya dengan air yang berasal dari dalam tanah.
9.      Suhu : adanya suhu mempengaruhi kelembaban udara disekitarnya. Semakin tinggi suhu udara maka kelembaban udara disekitar rendah. Hal ini mengakibatkan tekanan uap air dalam rongga daun dan lingkungan berbeda cukup besar sehingga kecepatan transpirasi juga besar.
Cahaya : pada siang hari, tumbuhan mengalami proses fotosintesis yang memerlukan sinar matahari. Sinar matahari juga berpengaruh terhadap terjadinya transpirasi. Karena pada saat siang hari  stomata terbuka, sehingga transpirasi akan berjalan lancar.





Daftar Pustaka
Sasmitamihardja Dardjat dan Arbayah H. Siregar. 1994. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Institut Teknologi Bandung

0 komentar:

Poskan Komentar